PEMAHAMAN dan PEMIKIRAN

Bagian 3:

Sunnah Nabi juga datang untuk menjelaskan dan menafsirkan ayat-ayat tersebut, baik secara teoritis maupun dalam pelaksanaannya. Rasulullah terus menerus membetulkan dan menjelaskan, membangun dan merobohkan, hingga masyarakat Islam itu memiliki persepsi yang lurus benar, pemahaman yang wadhih (jelas) dan memiliki bashirah (pandangan hati) dari Tuhannya. Sebagaimana firman Allah SWT kepada Rasul-Nya:
"Katakanlah, "Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik." (Yusuf: 108)
"Katakanlah, "Sesungguhnya aku telah ditunjukki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (Yaitu) agama yang benar; agama lbrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musrik." (Al An'am: 161)
Nabi SAW telah meluruskan berbagai pemahaman yang banyak sekali, di antara yang terpenting adalah pemahaman masalah iman. Maka keimanan itu bukanlah sekedar berangan-angan, tetapi iman adalah sesuatu yang meresap ke dalam hati dan dibuktikan dengan perbuatan. Rasulullah bersabda dalam hadist-hadistnya sebagai berikut:
"Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian, sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya." (HR. Bukhari-Muslim)
"Tidak sempurna iman di antara kalian, sehingga hawa nafsunya mau mengikuti (risalah) yang aku bawa." (Imam Nawawi mengatakan dalam Arba'in, kami meriwayatkannya dalam Al Hujjah dengan sanad Shahih)
"Bukanlah disebut orang beriman, orang yang semalam suntuk dalam kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan." (HR. Thabrani dan Abu Ya'laa)
"Iman itu ada tujuh puluh cabang, dan malu adalah cabang dari iman." (Mutafaqan 'alaih)
Dan juga hadits-hadits yang lainnya yang banyak sekali, sebagaimana yang dihimpun oleh salah seorang ulama yaitu Imam Baihaqi dalam satu kitab besar yang berjudul "Syu'abul Iman."
Islam telah meletakkan pemahaman baru dalam hal diterimanya amal, sehingga amal itu dihubungkan dengan maksud dan niat yang memotivasi terlaksanannya amal tersebut, Islam telah memfokuskan pandangannya kepada hati, bukan pada bentuk lahiriahnya saja, Rasulullah bersabda:
"Sesungguhnya nilai amal tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya tiap-tiap (amal) itu tergantung pada niatnya." (HR. Bukhari-Muslim)
"Sesungguhrya Allah tidak melihat pada bentuk dan tubuh kamu, tetapi Ia melihat pada hati dan amal kamu." (HR. Muslim)
"Ingatlah! Bahwa sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging, apabila ia baik, baiklah seluruh tubuh, dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh, itulah hati." (HR. Bukhari Muslim)
Rasulullah SAW juga menjelaskan hakekat orang yang kaya:
"Bukanlah kekayaan itu dilihat dari banyaknya harta, tetapi kekayaan itu dilihat dari kekayaan hati." (HR. Bukhari-Muslim)
Kemudian beliau juga menjelaskan hakekat kekuatan, maka dikembalikan pada kekuatan mental, bukan kekuatan fisik:
"Bukanlah orang yang kuat itu (dilihat) dari kekuatan dorongannya, tetapi orang yang kuat ialah yang mampu menahan nafsunya ketika marah." (HR. Bukhari-Muslim)
Rasulullah SAW juga menjelaskan hakekat orang yang miskin dengan penjelasan yang berbeda dengan pemahaman manusia pada umumnya manusia, beliau bersabda:
"Bukanlah orang yang miskin itu orang yang hanya sampai padanya satu atau dua biji kurma, tidak pula satu atau dua suapan, akan tetapi orang yang miskin adalah orang yang tidak mendapatkan dan sisa dan ia tidak dilihat sehingga ia diberi sedekah, dan tidak bekerja sehingga meminta kepada manusia." (HR. Bukhari-Muslim)
Rasulullah juga menjelaskan standar keutamaan yang ada pada manusia, baik secara individu maupun dalam bermasyarakat."abi SAW membatasi keutamaan itu terletak pada keimanan, ketaqwaan dan amal shalih, dan menolak pemahaman yang berkembang pada umumnya yang mengukur dengan perhiasan, pangkat, harta, kekayaan, kebangsaan dan keturunan atau yang serupa dengan itu semua dari standar-standar materi duniawi."abi SAW bersabda:
"Betapa banyak orang yang (penampilannya) tidak rapi, didorong dengan pintu (jika berkunjung), tapi seandainya ia bersumpah kepada Allah pasti Allah akan memperhatikannya." (HR. Muslim)
"Banyak orang yang fakir itu lebih baik dari sepenuh bumi dari orang kaya yang masyhur" (HR. Mutafaq 'alaih -secara makna-)
"Dan tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang 'Ajam, dan tidak ada keutaman bagi orang berkulit merah atas orang yang berkulit hitam kecuali dengan ketaqwaan." (HR. Al Bazzar)
"Barang siapa yang amalnya Iambat, maka tidak bisa dipercepat oleh nasabnya." (HR. Muslim)
"Akan datang seorang lelaki besar gemuk di sisiku di hari kiamat, tetapi beratnnya di sisi Allah tidak melebihi berat sayap nyamuk." (HR. Bukhari)
Rasulullah SAW pernah menjelaskan kerusakan standar pada akhir zaman, beliau bersabda:

"Akan datang pada manusia suatu zaman (masa), di mana pada masa itu seseorang dikatakan, "Alangkah wibawannya, alarngkah cerdasnnya, dan alangkah kuatnya, " tetapi dalam hatinya tidak ada seberat biji pun dari keimanan." (HR. Bukhari)
 Sistem Masyarakat Islam
dalam Al Qur'an & Sunnah
Oleh:  DR. Yusuf Al-Qardhawi

Kunjungi juga:
·         http://jaketbaseball.org/
·         http://tokoseragamonline.com/

0 komentar: