KOREKSI PEMAHAMAN AHMADIYYAH DAN SALAMULLAH

Bagian 5;

Membandingkan antar Nabi yang satu dengan Nabi lainnya seperti yang dilakukan oleh para penganut Ahmadiyanisme [khususnya Qadiyan] itu dengan membanding2kan Isa dengan Muhammad, Muhammad dengan Musa dan seterusnya adalah satu kelancangan yang hanya ingin menampilkan sosok kelebihan Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai Rasul agar pengklaimannya dapat disetujui.
Bukan pada tempatnya bagi manusia untuk menilai kemuliaan derajat antar para utusan Allah sebab memang manusia pada dasarnya tidak pernah tahu dan tidak pernah mengerti mengenai hal tersebut, penegasan 3:84 ini diulang kembali oleh Allah pada ayat 2:136.
Pada ayat 2:253, 17:55 Allah dengan tegas mengatakan bahwa hanya Dia-lah yang patut mengadakan penilaian ketinggian derajat antar Rasul-Nya. Dan hal ini memang sudah sewajarnya sebab hanya Dia-lah yang lebih mengetahui dan memiliki otoritas penuh dalam menilai apa dan bagaimana karakter masing-masing utusan-Nya itu.
Dalam catatan sejarah AlQur'an dipaparkan bahwa Allah telah melebihkan serta memuliakan para Nabi-Nya seperti Musa [7:144], Daud dan Sulaiman [27:15], Isa Almasih [3:45-46], Muhammad [94:4], Ibrahim [2:124] dan lain sebagainya [Nuh, Ayyub, Harun dll] yang kesemuanya tercantum dalam ayat 4:163, 33:7 dan berbagai ayat lainnya yang tersebar dalam AlQur'an.
Membeda-bedakan para utusan Allah dalam sudut pandang apapun hanya akan menyebabkan diskriminasi yang berkepanjangan yang dapat menyebabkan manusia terjerumus mendewakan salah satu dari mereka dan mencampakkan yang lainnya sehingga menimbulkan fitnah, khurafat dan pelecehan kepada mereka.
Semua Nabi dan Rasul sebelum Muhammad wajib untuk dihormati, mereka semua adalah orang-orang yang suci dan telah mengantarkan kaumnya kepada peradaban yang mengenal nilai-nilai keTuhanan dan juga sebagai penyampai khabar gembira akan kehadiran Rasulullah Muhammad Saw selaku Nabi penutup.
Sekarang kita beralih ke Surah An-Nisa' 152 :
Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya dan tidak membedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa' 4:152)
Pada ayat diatas juga disebutkan bahwa "Orang yang Beriman kepada Allah dan para Rasul" ditekankan dengan penambahan kalimat "Dan tidak membedakan seorangpun di antara mereka", jadi kalimat keberimanan orang kepada Tuhan dan Rasul tidak sempurna jika mereka masih saja mengadakan perdebatan mengenai kemuliaan seorang Rasul dari Rasul yang lainnya, namun bagaimanapun juga secara manusiawi adalah wajar bila suatu saat kita lalai dan melakukannya tanpa kita sadari, untuk itulah pada bagian akhir ayat diatas diakhiri dengan pernyataan Allah : "Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Allah Maha Tahu dan Bijaksana, Dia sadar manusia tidak akan bisa lepas dari kefanatikannya kepada para Nabi mereka maka dari itu Allah mengampuni perbuatan kita tersebut dan tidak akan menghukum kita, tetapi Allah juga memberi persyaratan pengampunannya sebagaimana yang tercantum dalam AlQur'an Surah Al-Maidah ayat 39 :
Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri
Maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Al-Ma'idah 5:39)
Setelah sadar kita melakukan kesalahan, kita koreksi diri kita sendiri agar tidak mengulanginya kembali dilain waktu maka bertaubatlah kepada Allah atas kesalahan yang kita buat maka niscaya, jika kita ikhlas melakukannya, maka Allah akan mengampuni kita.
Kembali kita pada pembahasan surah Al-Ahzaab ayat 33 :
"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu.
Tetapi dia adalah Rasul Allah dan
penutup para Nabi
.
Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
(QS. Al-Ahzaab 33:40)
Bahwa pada bagian terakhir ayat ini dinyatakan "Allah Maha Mengetahui segala sesuatu", sesungguhnya mengandung pesan dan tujuan yang besar. Persoalan Muhammad sebagai "penutup para Nabi" telah diketahui akan menimbulkan kontroversi dari manusia dengan penafsirannya yang berjuta macam.
Jemaah Ahmadiyyah menolak arti dari "Khatamannabi" sebagai kepenutupan Rasulullah Muhammad Saw sebagai Nabi Allah yang berarti terputusnya rantai wahyu kepada manusia dan pernyataan semacam ini justru merendahkan keagungan Nabi Muhammad dan sebagai penghalang rahmat kenabian kepada umat.
Menurut hemat penulis, adalah sesuatu hal yang muskyil sekali apabila rahmat Allah akan menjadi terputus dengan posisi Muhammad selaku Nabi penutup, tidak ada satupun rahmat Allah yang dapat terputus dan tidak ada sesuatu yang mampu menghalangi kehendak-Nya apabila Dia sudah menetapkan perkara sesuatu.
"Apapun rahmat yang Allah limpahkan untuk manusia, maka tidak ada sesuatupun yang bisa menghalanginya, dan apa-apa yang Dia tahan maka tidak ada sesuatupun yang dapat melepaskannya."
(Qs. fathir 35:2)
"Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melewati batas atas diri kalian sendiri, janganlah kamu berputus harapan dari rahmat Allah; sungguh Allah mengampunkan semua dosa-dosa karena Dia adalah Pengampun, Penyayang."
(Qs. az-Zumar 39:53)
"Sesungguhnya, orang-orang yang benci kepada kamu, itulah orang yang terputus."
(Qs. al-Kautsar 108:3)
Dalam artikel "Perbedaan Nabi dan Rasul" telah penulis catatkan secara rinci dengan penguraian yang panjang lebar dimana letak beda posisi seorang Nabi dengan posisi seseorang selaku Rasul.
Bahwa pintu kenabian telah tertutup semenjak datangnya Nabi Muhammad Saw dengan ajaran Islam yang universal dan sempurna bagi umat manusia sepanjang masa dan jaman, namun pintu ke-Rasulan akan tetap berjalan seiring dengan peradaban manusia yang ada.
Selain itu, dalam salah satu riwayat dikatakan bahwa Nabi Saw telah bersabda :
"Allah tidak akan mengirimkan Nabi lagi sesudahku, tetapi hanya Mubashshirat" Dia menukas: Apakah al-Mubashshirat tersebut ?. Lanjut beliau : Mimpi yang baik serta petunjuk yang benar.".
(Musnad Ahmad, Marwiyat Abu Tufail, Nasa'i, Abu Dawud)
Disini Rasulullah banyak memberikan arahan bahwa sepeninggal beliau Saw, tidak akan pernah ada lagi Nabi yang diutus untuk umat manusia, namun keterputusan wahyu kenabian ini tidak pernah menghalangi wahyu kebaikan bagi diri manusia, selama peradaban masih ada, langit tetap biru dan gunung-gunung tetap menjulang maka selama itu pula akan ada hamba-hamba Allah yang Shaleh yang menegakkan kebenaran dan keadilan berdasarkan apa yang sudah diwahyukan Allah melalui Nabi Muhammad Saw.
Allah, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw dalam hadist lainnya, akan menurunkan Mubassyirah dan Mujaddid kepada umat Islam selaku perpanjangan dan keterbukaan rahmat Allah Swt sepeninggal Rasulullah Saw.
Nabi Saw bersabda: "Allah tidak akan mengirimkan Nabi lagi sesudahku, tetapi hanya Mubashshirat"
Dia menukas: Apakah al-Mubashshirat tersebut ?. Lanjutnya : Mimpi yang baik serta petunjuk yang benar.".
(Musnad Ahmad, Marwiyat Abu Tufail, Nasa'i, Abu Dawud)
Dari Abu Hurairah ia menerangkan bahwa Rasulullah Saw bersabda :
"Sesungguhnya Allah Swt akan mengirimkan untuk ummat ini pada permulaan setiap seratus tahun seorang Mujaddid yang akan memperbaharui agama."
(RiwayatAbu Dawud)
Para Mujaddid atau pembaharu yang mendapatkan hikmah (Mubassyirah) inilah yang nantinya akan meneruskan perjuangan Nabi Muhammad Saw dalam rangka meluruskan dan mengoreksi kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh manusia terhadap ajaran Allah Swt.
Bila dulu masing-masing kaum masih memerlukan kedatangan Nabi-nabi baru guna meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi terhadap ajaran Nabi sebelumnya, namun dengan turunnya Muhammad Saw yang membawa rahmat bagi seluruh alam, tidak ada lagi yang perlu diluruskan karena ajarannya bersifat universal, menyeluruh dan sangat manusiawi serta ilmiawi.
Risalah Islam yang dibawa oleh Muhammad tersebar keseluruh dunia oleh para sahabat dan kaum Muslimin yang sudah diatur oleh Allah sebagai "utusan-Nya", dalam setiap pergantian abadnya juga diberitakan Allah akan melahirkan manusia-manusia pandai selaku mujaddid yang akan menyelaraskan Sunnah-Nya sesuai dengan konteks jaman yang berlaku saat itu.
Dengan demikian, dari satu sudut pandang ini, umat manusia tidak lagi memerlukan adanya Nabi-nabi baru, manusia sudah memiliki al-Qur'an, manusia sudah memiliki as-Sunnah, manusia juga sudah diperintahkan untuk merujuk pada ahli Bait Nabi dan manusia pun sekarang sudah punya kemampuan ilmiah untuk membuktikan dan menyebarkan ajaran Islam selaku Mujaddid.
Allah sendiri sudah berfirman dalam Surah al-Maidah ayat 3 betapa Risalah yang dibawa oleh Muhammad Saw sudah lengkap dan sempurna, tidak ada lagi yang perlu ditambah atau direnovasi.
"Pada hari ini orang-orang kafir telah berputus asa daripada agama kamu. Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi hendaklah kamu takut kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agama kamu dan telah Ku-cukupkan atasmu ni'mat-Ku, dan Aku telah ridho Islam itu sebagai agama buat kamu."
(Qs. al-Ma'idah 5:3)
Ibarat sebuah buku yang sudah diperbanyak dan tinggal lagi pihak penerbit atau pihak agen menyebarluaskan buku tersebut kepada masyarakat untuk kemudian para pembaca atau para cendikiawan memberikan penafsiran yang lebih luas terhadap kandungan isi buku tersebut sesuai dengan konteks keadaan yang berlaku (Dalam konteks agama para pembaca atau para cendikiawan inilah yang kita sebut dengan Mujaddid). 


"STUDI KRITIS PEMAHAMAN ISLAM"
Oleh ARMANSYAH

Sponsor link:

0 komentar: